Sabtu, 18 Februari 2017

Idealisme dan Sikap "Ingin Memberikan yang Terbaik untuk Menerima Hasil yang Terbaik"

Source: google.co.id

Panjang banget ya judulnya?

Well, aku cuma mau cerita tentang kegelisahanku kemarin dibilang sama Bapak bahwa aku terlalu idealis. Ceritanya aku sedang mempersiapkan penelitian untuk skripsiku, nah karena penelitianku di lapangan bukannya di laboratorium, aku tahu bakal ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Aku sudah mempersiapkannya, beberapa faktor kukontrol, sementara faktor lainnya kubiarkan bebas sesuai kondisi di lapangan, haya saja tetap kucatat sebagai bahan evaluasi.


Yang namanya skripsi, entah kenapa rasanya lebih sulit. Padahal tugas-tugasku dari masih jadi mahasiswa baru juga udah beberapa kali melakukan eksperimen di lapangan. Tapi kenapa buat skripsi rasanya sulit? 

Mungkin aku lupa ya kalau gak ada penelitian yang sempurna. Karena itulah ilmu, tak ada ilmu yang benar-benar sempurna, oleh karenanya ilmu selalu berkembang. Bisa dibayangin kalau teorinya Darwin masih berlaku sekarang, mungkin kita gak bakal nyanyi "nenek moyangku seorang pelaut..." melainkan nyanyi "nenek moyangku seorang sun go kong...."

Berterimakasihlah pada para ilmuwan setelah Darwin yang berhasil mematahkan teori itu.


Iya aku tahu betul itu. Di dunia ini apa sih yang sempurna? Kesempurnaan hanya milik Tuhan, betul?

Nah, aku tuh ngotot ini-itu yang berkaitan sama penelitianku tuh harus gini, harus sesuai sama teori, harus sama persis dengan apa yang aku tulis di proposal skripsi.


Aku terlalu idealis ya?

Aku cuma ngerasa jarang bener waktu ngerjain tugas. Aku pengen skripsiku ini beneran, apalagi kayaknya aku kena doktrinnya Dosen yang bilang kalau, "Ngerjain skripsi tuh dengan cara yang halal, biar ijasahnya halal, dan kerjaan yang diperoleh dengan ijasah itu juga halal, ngasih makan keluarga juga jadinya halal...."

Serius, aku kepikiran ini banget!!!

Tapi kan, kamu gak bisa ngontrol kondisi di lapangan Ran. Bisa kamu misalkan menghentikan hujan yang bakal mengganggu penelitianmu nanti?

I know that it is imposible thing to do!

Aku juga gak ngerti sih, teori yang kupakai itu benar atau tidak, prosedur yang kutetapkan itu sudah benar atau tidak. But, aku cuma jaga-jaga man, dari dulu aku menerapkan prinsip "memberikan yang terbaik untuk mendapatkan hasil terbaik". Kupikir, selama aku bisa mengontrol semua bias atau perancu yang bakal menganggu penelitianku, aku harus lakukan itu.

Tapi, aku akui itu bakal susah. Aku harus lebih memanjangkan ususku untuk menahan diri dari emosi yang berlebihan. Berusaha nerimo dan kembali putar otak buat mengatasi kekurangan dalam penelitianku nanti.

Tapi, sekali lagi, apa aku terlalu idealis? 


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar