Sabtu, 08 Juli 2017

Konferensi Predator???

Siapa yang udah pernah ikut konferensi atau seminar? Pasti udah familier dong dengan "call for paper"? Jadi biasanya kalau seminar/konferensi nasional/international itu ada sesi khusus untuk memaparkan hasil penelitian individu/tim.

Call for paper itu sebagai cara perekrutan pembicara untuk plenary session yang biasanya diadain di akhir acara seminar/konferensi. Kalau kamu pernah jadi peserta seminar nasional/konferensi yang juga ada presentation programnya, biasanya panitia akan mempersilakan kamu untuk masuk ke kelas-kelas yang memaparkan hasil penelitian dengan tema tertentu. Kamu bisa baca dulu tuh apa aja sih judul penelitian yang mau dipaparkan, kalau kamu tertarik atau penasaran, kamu bisa ikut jadi audience mereka saat presentasi nanti.

Aku baru dua kali ikut apply jadi pembicara di konferensi, yang pertama di seminar nasional. Dulu sebenarnya sudah diumumkan bahwa gagasanku (dulu boleh pake gagasan) bisa diikutkan dalam plenary session. Tapi kemudian, seminggu sebelum pelaksanaan, diumumkan lagi nama-nama yang akan menjadi pembicara, namaku dan tim ga ada tuh, jadi gagal deh.

Kemudian yang kedua kalinya, aku coba apply ke 19th international conference on Entomology yang kebetulan mau diadain di Paris, Perancis, bulan Oktober mendatang. Karena kebetulan juga baru selesai penelitian, didukung sama teman-teman yang juga jenuh sama skripsi, kita coba hal baru dengan apply conference. Sebenernya iming-iming jalan-jalannya sih yang bikin mupeng. Siapa sih yang gak tau Paris? Kota mode di dunia, pikiranku langsung tertuju sama menara Eiffel kan hahaha.

Jadi, kembali ke topik ya. Gak lama setelah apply itu, aku dapat notif kalau abstrak kami diterima dan sudah dijadwalkan untuk mengikuti presentation program session 2 bersama Praveen Verma (gakenal ?) untuk oral presentation. Seneng banget dong kita, secara ini pengalaman pertama ngisi konferensi, international pula. Kebetulan kami bertiga (tim saya) pernah menjadi liaison officer (LO) di sebuah international conference yang diadain sama fakultas pada tahun 2015. Kalau sebelumnya jadi panitia, boleh lah kali ini coba jadi pesertanya.

Acceptance Letter
Sumber: dokumentasi pribadi

Mulailah kita ngerancang kebutuhan dana, aku cari penginapan dan tiket pesawat, temanku yang lain berkonsultasi dengan dosen mengenai rencana keberangkatan kami. Kebetulan aku ketua timnya dan aku baru inget kalau aku juga yang harus mempresentasikan nanti. Wait wait... ini beneran gak sih? Tanyaku lagi. Kembali kubuka website penyelenggaranya dan membaca semua tulisan disana, perlu beberapa kali baca sampai aku mudeng (belum fluent english) lalu kok aku ngerasa aneh ya? ternyata itu website gak hanya berisikan satu konferensi, tapi ratusan konferensi di seluruh dunia dalam rentang waktu antar konferensi yang pendek.

Kebetulan ada menu Publication di web yang isinya daftar abstrak yang pernah diikutkan di konferensi yang diakomodir sama website itu. Aku cari deh yang nama authornya nama orang Indonesian, terus aku cari akun mereka di IG (kupilih IG karena kayaknya instagram sekarang sedang menjadi sosmed yang banyak dimiliki oleh orang Indonesia). Dapat beberapa akun, terus aku DM mereka tanya-tanya tentang pengalaman mereka mengikuti konferensi itu.

Oh iya, aku belum sebut ya nama penyelenggaranya? Namanya itu WASET (World Academy of Science, Engineering, and Technology). Kalian bisa search sendiri di google, pasti muncul di pencarian pertama. 

Oh iya, dari Q&A-ku sama alumni peserta waset itu, sebagian dari mereka bilang acaranya bagus, sebagian lagi bilang kalau acaranya gak worth it dan mereka menyesal pernah ikut. Kenapa nih? Aku iseng cari-cari review netizen tentang konferensi WASET, dan ternyata banyak yang bilang kalau WASET itu konferensi predator, artinya konferensi yang diadakan untuk faktor profit/keuntungan semata. Buat panitia jelas dapat pemasukan dana, buat peserta bisa dapat sertifikat berkelas internasional. Dan lagi, ternyata sesi presentasinya dilaksanakan dalam satu tempat dan semua subtema campur aduk, jadi bisa aja dalam satu sesi, ada yang bicara tentang psikologi, kesehatan, teknik, bahkan bidang ilmu lainnya yang sama sekali berbeda.

Eh, ada kontak panitianya gak? Oh iya, siapa juga ya panitianya? Ternyata panitianya juga gak jelas, kalau mau nanya-nanya difasilitasi lewat menu Q&A, meskipun setiap kali aku tanya, sehari kemudian udah dibalas. Setelah aku baca ulang abstrakku yang mau dimasukkan ke proceeding, katanya itu udah melalui peer review, tapi kok ga ada yang berubah sama sekali ya? Kupikir bakal ada perubahan atau revisi karena direview sama orang native yang bahasa ibunya udah bahasa Inggris. 

Surat Keterangan Telah Direview
Sumber: dokumentasi pribadi
Layout Abstrak dalam
International Journal of Bioengineering and Life Sciences Vol:4, No:10, 2017
Sumber: dokumentasi Pribadi
Dosen pembimbingku menyarankan untuk apply ke konferensi lainnya sih, tapi entahlah, aku perlu banyak referensi buat apply lagi, apalagi kalau harus abroad keluar. Kalau yang punya pengalaman ikut konferensi internasional sebagai pembicara, boleh lah sharing disini ^_^

Dosenku mengatakan bahwa konferensi predator itu akan bermasalah jika sertifikatnya digunakan untuk kepentingan tertentu: daftar kerja, kenaikan jabatan, dsb dan lembaga/institusi tersebut mengharamkan beberapa jenis publikasi dari lembaga tertentu, sertifikatnya jadi gak diakuin deh. Kan sayang buang uang banyak tapi gak worth it. Tapi buat mahasiswa yang lagi cari pengalaman kayak aku, ya boleh lah buat pengalaman (kalau lagi banyak duitnya HAHAHA)

Ada beberapa jurnal dan publikasi lainnya yang telah dinyatakan sebagai jurnal predator oleh Kemenristek DIKTI, tapi aku gak nemu tuh file yang diterbitkan sama kementerian itu untuk konferensi predator. Tapi merujuk pada website  http://scholarlyoa.com yang juga dirujuk oleh Kemenristek DIKTI, konferensi WASET termasuk dalam daftar konferensi predator. Itu website internasional lho ya, jadi jelas banget kalau WASET itu konferensi predator.

Jadi setelah rembug sana sini, sama teman satu tim, sama dosen, sama orangtua, akhirnya kami memutuskan mengundurkan diri. Lupain deh kecewa udah dapat referensi hotel yang lumayan murah deket sama eiffel tower, lupain deh jalan-jalan ke Parisnya... 

Selain karena biaya mahal (ternyata bayarnya per orang, bukan pertim), dan merasa percuma banget kalau datang ke Paris cuma buat presentasi dan pulang bawa sertifikat aja (karena ga ada sesi lainnya kayak seminar atau field trip kek), secara bayar mahal cuy 250-450 euro (1 euro sekitar Rp15.000,00) jadi bisa dibayangin lah harganya sertifikat itu semahal apa hahaha 

Kalau kulihat sih, banyak lho profesor dan ilmuan yang udah ikut konferensi WASET ini, entah mereka gak tau atau pura-pura gak tahu. Yang jelas aku masih harus belajar dan banyak bertanya, apalagi dengan pengalaman yang nol sama teman-teman satu tim. Beruntungnya aku punya dosen-dosen yang berbaik hati membantu mencarikan informasi mengenai konferensi WASET ini. Bahkan mereka membesarkan hatiku dengan menyarankan beberapa konferensi baik nasional dan internasional. 

Oke deh, segini dulu ya postingannya. 

Semoga bermanfaat ^_^ 

Referensi bacaan: http://pak.ristekdikti.go.id/portal/?=132
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar