Selasa, 20 Juni 2017

Serunya Travelling Naik Perahu

Udah musim liburan kan ya? Pas banget ini kebetulan aku baru pulang dari perantauan, dan mau sharing tentang pengalaman liburan (which is sudah lama sekali liburannya). Enggak deng, baru beberapa bulan yang lalu. 

Jadi ceritanya setelah aku daftar sidang skripsi setelah ngebut bikin bab 4-6 setelah penelitian, aku sedih karena harus ditinggal dosen pembimbing cuti melahirkan selama 3 bulan. Setelah beberapa orang menasihatiku untuk "pulang kampung", akhirnya aku menuruti mereka. Mungkin kelihatannya aku seperti orang frustasi di kosan. 


Setelah pulang ke rumah, sahabat-sahabatku mengajakku untuk wisata alam. Apa nih? Kayaknya aku udah explore hampir semua wisata alam di sekitar tempat tinggalku deh (Tegal, Jawa Tengah). Ternyata mereka mengajakku ke hutan mangrove.

OH NOO!!! 

Langsung deh aku curhat ke mereka kalau aku trauma ke hutan mangrove atau rawa-rawa. Soalnya keinget dulu pernah ikutan nanam tanaman bakau di rawa-rawa pinggir pantai Kota Semarang, pulangnya kulitku gosong padahal cuma terpapar matahari beberapa jam aja (ketahuan spf cream wajahnya rendah bingit). 

Tetapi setelah diimingi fasilitas wisata yang gak biasa, akhirnya aku setuju untuk berangkat.

Aku lupa hari apa itu, tetapi yang jelas itu bukan weekend atau weekday. Kebetulan 4 orang dari kami, satu orang sudah lulus kuliah dan 3 lainnya sedang mengerjakan skripsi dan tugas akhir, jadinya kami bebas berkeliaran.

Kukira perjalanan kali itu bakal panas banget, karena aku yang sejak lahir di kota ini jadi tahu betul cuacanya. Ternyata baru separuh perjalanan ke tempat wisatanya, hujan turun dengan derasnya. Kami sengaja berteduh sekalian cari makan siang. Mampirlah kami ke sebuah warung mie ayam.

Singkat cerita, kami melanjutkan perjalanan setelah hujan berganti jadi gerimis-gerimis cantik. Sampai di lokasi wisata, hujan sudah benar-benar berhenti. Tapi sisa-sisa hujan masih kerasa jadi gak perlu khawatir lah ke hutan mangrove dengan panas-panasan.

Ini dia... namanya wisata alam Hutan Mangrove Pandansari, Brebes.

Pintu masuk ke lokasi keberangkatan perahu
Sumber: dokumentasi pribadi
Lokasinya gak jauh dari Kota Tegal, ya sekitar 1 jam lah. Ini objek wisata yang terhitung baru, tapi bisa dilihat bahwa ekonomi penduduk sekitar jadi terbantu dengan adanya objek wisata ini. Cukup bayar Rp15.000,00 kamu bisa memasuki kawasan hutan mangrove. Tambahan fasilitas yang kubilang beda dari yang lain adalah, kami akan menuju ke lokasi hutan mangrove dengan menggunakan perahu!

Unik gak sih? Biasa aja ya? Yah aku baru ke dua tempat wisata hutan mangrove dan baru ini yang harus ditempuh pake perahu sih ya. Apalagi waktu itu aku juga lagi kangen naik perahu, keinget jaman main ke pulau Karimunjawa terus snorkling di pulau kecil sekitar Karimunjawa. Yah, hiburan naik perahu ke hutan mangrove bisa jadi penawar ya.

Oke, jadi ketika kami datang ke lokasi keberangkatan, kami langsung disambut dengan 3 perahu dan beberapa orang yang lagi duduk-duduk di sekitar dermaga. Kami langsung diberangkatkan dengan perahu motor. Kayaknya sih itu perahu berangkat jika jumlah penumpang sudah mencukupi. Beruntung kami jadi yang ditunggu untuk mencukupi tempat duduk perahu, jadi kami gak usah nunggu lama.

Ini dia perahu yang kami naiki. Kamu bisa bayangin deh gimana rasanya berlayar di tengah hutan rawa nan sunyi senyap. Cocok banget buat nenangin diri orang yang lagi gundah gulana kayak aku ini.

Naik perahu
Sumber: dokumentasi pribadi

Butuh waktu sekitar 5-10 menit buat sampai ke lokasi "sesungguhnya" hutan mangrove itu. Kamu akan turun di dermaga kemudian melewati jembatan kayu yang dibangun di tengah-tengah laut. Gak ngerti deh, itu tengah laut atau bukan. Yang pasti sensasinya seperti terdampar di pulau tak bernama karena tak kelihatan atap-atap rumah penduduk di mana pun. Mungkin karena terhalang oleh lebatnya tanaman bakau.

Kelihatan gak dermaganya?
Sumber: dokumentasi pribadi
Ini dia jembatan kayu buat tracking hutan mangrove. Keliatan kan kalau hutannya lebat banget. Jadi gak usah khawatir bakal kepanasan deh, justru sensasi sejuk dan lembab yang bakal kamu temuin di sini. Hampir semua fasilitas disini dibuat dengan bahan kayu, termasuk gazebo dan menara-menara tinggi yang bakal kamu jumpain di dalamnya. Tapi aman kok, mungkin karena masih baru. Sewaktu kami kesana malah ada satu jembatan besar yang lagi dicat ulang. 

Jalur tracking
Sumber: Dokumentasi pribadi

Kamu gak perlu takut nyasar juga. Karena jalur tracking nya memang sudah dibuat satu jalur sehingga jika kamu masuk dari pintu masuk, kamu juga bakal keluar di pintu keluar *apasih* -_-
Pokoknya di sini petunjuk arahnya jelas kok. Tuh lihat, benar-benar sederhana kan jalur tracking nya.

Denah hutan mangrove Pandansari, Brebes
Sumber: Dokumentasi pribadi
Termasuk kalau kamu butuh toilet atau musola, fasilitas ini juga tersedia di dalam hutan mangrove ini.  Aku udah cobain sendiri, airnya gak asin. Musolanya juga bersih, walaupun sempit sih. Air rawanya cokelat ya, mungkin efek karena habis hujan lebat sebelumnya. Di sini kamu juga bisa nemuin beberapa satwa liar seperti katak, bunglon, tapi gak tau ya kalau buaya. Adanya buaya darat mungkin :p

Petunjuk arah
Sumber: dokumentasi pribadi
Ada dua menara yang bakal kamu temuin disini. Yang pertama 2 lantai ini. Ini baru banget dicat ulang, warna-warni jadi gak kelihatan suram sesuram air hutan mangrove ini.



Buat yang gak phobia sama ketinggian kayak aku, sebenarnya ini menara gak terlalu tinggi sih. Tapi gak tau kenapa kalau lihat tangga kayu yang kemiringannya lebih dari 45 derajat gitu suka ngeri sendiri, bayangin yang aneh-aneh aja. Itu tanganku udah keluar keringat dinginnya buat naikin anak tangga satu persatu :( But, it's oke. Kamu bakal disuguhin sama pemandangan mencengangkan setelah sampai di atas menara.

Lebatnya hutan mangrove jika dilihat dari atas menara
Sumber: dokumentasi pribadi


Ini baru di pintu masuk hutan ya, memasuki hutan yang lebat baru deh kerasa sepinya. Ini dia jembatan yang bakal ngarahin kamu ke dalam kerimbunan hutan. Sebut saja ini jembatan cinta, which is baru dicat warna pink, dan emang cocok banget buat kamu yang mau foto prewed atau sekadar foto bareng sahabat (macam saya ini) atau bareng pacar halal.

We called it "Bridge of Love"
Sumber: Dokumentasi pribadi

Begitu melewati jembatan ini, kamu bisa lihat laut lepas di sisi kiri, dan kerimbunan hutan bakau di sisi kanan. Perpaduan yang ciantik sekali. Ada juga bangku-bangku panjang buat kamu yang ngerasa lelah dan ingin beristirahat. Kalau datang sendiri jangan lupa, bersandarlah ke sandaran kursi ya, jangan bersandar ke bahu pacar orang *ups*

Memandang laut lepas dengan memblokade jembatan :p
Sumber: dokumentasi prbadi

Enak juga tuh kalau sambil tamasya, bawa makanan buat dimakan bareng-bareng sambil duduk-duduk di gazebo. Tapi ingat ya, buang sampahnya ke tempat sampah. Jangan dibuang ke tanah lempung atau malah diselipin di antara akar tanaman bakau. Tempat sampah ini tersedia kok, walaupun jumlahnya ga terlalu banyak. Biasakan simpan sampahmu buat dibuang di tempat yang seharusnya ya. Dan jangan sampai kelupaan, ntar malah lupa nyimpan sampah di kantong celana atau di saku tas :p

Buanglah sampah pada tempatnya!
Sumber: dokumentasi pribadi
Ini dia menara kedua, tingginya 3 lantai. Tapi menara ini hanya bisa menampung sebanyak 10 orang saja ya gaes. Maklumlah, menara kayu. Ini kalau ada orang di bawah yang mau naik keraa banget goyangnya loh. Jadi itu aku (baju item jilbab cokelat) lagi berpegangan karena was-was jatuh. Lihat aja ijo-ijonya, bikin adem kan :D

Ijonyaaa <3
Sumber: dokumentasi pribadi

Kalau udah selesai tracking, kamu harus balik lagi ke arah kamu datang tadi. Karena pintu masuk dna keluarnya sama. Dermaganya cuma ada satu, jadi kamu harus balik lagi deh biar bisa dijemput ojek perahu (?)

Ada sih pintu masuk lainnya, tapi ini kayaknya jarang digunain buat nge-drop wisatawan. Kalau kamu sampai di pintu gerbang which is pintu masuk gak resmi ini, bisa jadi kamu nyasar. Coba deh putar balik badanmu, terus ambil jalan lurus aja.
Pintu masuk "lain"
Sumber: dokumentasi pribadi
Oh ya, kalau kamu datang kesini menjelang sore, mending catat deh nomor ini. Barangkali kamu ketinggalan jemputan perahu, kamu bisa hubungi mas-mas driver perahu ini buat minta jemput. Jangan sok jagoan mau nginep di dalam hutan ya, warga yang buka lapak di dalam hutan ini juga pulang ke rumah mereka kok. Gak ada batasan waktu kamu berkunjung, asal kamu dah bosen dan pengen pulang aja deh. 

Kamu ketinggalan perahu? Hubungi nih :p
Sumber: dokumentasi pribadi

Nah, gimana udah puas baca review-ku tentang objek wisata hutan mangrove Pandansari ini? Saranku, kalau kesini jangan lupa tongsis atau fish eye camera. Foto selfie atau difotoin temen jadi kurang bagus hasilnya, karena lokasi yang terlalu luas jadi gak kelihatan bagus kalau gak pinter cari angle yang pas. Oh iya, di dalam hutan ini juga banyak yang buka warung atau orang jualan keliling jualin minuman dan cemilan. Tapi author gak bisa cerita harganya ya, karena kebetulan author gak beli (ngirit ceritanyeee).

Oke deh, udahan dulu yaa ceritanya. Next time author bakal cerita tentang pengalaman author jalan-jalan di Kota Pekalongan dan kisah penduduk yang terendam banjir rob selama lebih dari 10 tahun. Penasaran? Tunggu ya post selanjutnyaa :D

Auf wiedersehn! (Germany)
Good bye! (English)
Kono minggat! (Jowo)



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar